Selasa, 31 Januari 2012

RAGAM BAHASA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI PALEMBANG DAN PANDANGAN MEREKA TERHADAP PEMAKAIAN BAHASA: STUDI ANALITIS BERDASARKAN GENDER


RAGAM BAHASA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
DI PALEMBANG DAN PANDANGAN MEREKA TERHADAP
PEMAKAIAN BAHASA: STUDI ANALITIS
BERDASARKAN GENDER

Nurhayati 
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unsri

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan  ragam bahasa laki-laki dan perempuan di Palembang yang meliputi pemilihan topik percakapan, diksi (pilihan kata),  dan kalimat dalam percakapan nonformal; serta mendeskripsikan pandangan laki-laki dan perempuan di Palembang terhadap bahasa yang digunakannya.  Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bercorak deskriptif. Data dikumpulkan lewat rekaman dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa topik-topik yang dibicarakan laki-laki mengarah kepada urusan publik seperti politik, sosial, pencarian proyek, dan pembangunan. Topik yang dibicarakan perempuan berkisar ke masalah domestik seperti makanan, perilaku anak-anak, dan pakaian. Diksi yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan dapat dilihat dan berkaitan dengan topik-topik  yang dibicarakannya. Sementara itu, kalimat yang banyak digunakan oleh laki-laki dan perempuan adalah kalimat aktif.  Perempuan lebih banyak menggunakan kalimat pengiyaan, dan kalimat langsung. Laki-laki berpandangan bahwa mereka sudah memiliki kodrat yang menyebabkan mereka lebih tertarik ke arah “urusan luar” daripada urusan rumah tangga.  Pada sisi lain, perempuan menganggap wajar kalau mereka berbicara tentang masalah rumah tangga karena sehari-hari mereka berhubungan dengan masalah itu walaupun mereka termasuk wanita karir. Laki-laki menganggap mereka harus berbicara tegas dan efektif sedangkan perempuan menganggap mereka sering mengulang-ulang ujaran karena terbiasa dengan kondisi kesehariannya yaitu harus banyak “ngomong” di rumah. Perempuan sering menggunakan bentuk pengiyaan karena kebiasaan saja dan untuk melancarkan ucapan serta agar lebih komunikatif.


Kata-kata kunci: bahasa, laki-laki, perempuan.

           Adanya perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa yang dituturkan oleh keduanya. Fungsi dan peran perempuan di masyarakat yang hanya berkisar kepada urusan domestik (keluarga) berpengaruh terhadap bahasa yang digunakannya. Berbeda dengan perempuan, laki-laki  umumnya lebih berperan dalam urusan publik seperti urusan mencari nafkah, dan urusan “ke luar” rumah yang berpengaruh pula terhadap pemakaian bahasa yang dipakainya.
Masalah perbedaan bahasa dan wanita ini dengan berbagai faktor determinannya oleh Trudgill (1981:101)  dinyatakan sebagai suatu fenomena perbedaan linguistik yang tidak mudah untuk dijelaskan namun menarik untuk ditelaah lebih jauh.
            Terhadap persoalan topik percakapan dari beberapa studi kasus yang telah dilakukan oleh James Lull (dikutip oleh Budiman, 2000:69) diketahui bahwa kaum laki-laki pada umumnya dimana-mana menyenangi program-program olahraga, film laga atau action oriented, informasi atau berita. Program-program yang bersifat faktualitas tersebut disenangi karena menghadirkan seperangkat citra maskulin tertentu. Sementara itu, kaum perempuan tampaknya lebih tertarik kepada program-program yang berbeda dengan laki-laki. Film drama percintaan dan opera sabun seperti telenovela Maria Mercedes sangat disenangi oleh perempuan. Program-program drama tersebut hampir selalu  menampilkan persoalan-persoalan keluarga dan rumah tangga. Sambil menonton film tersebut para perempuan mengidentifikasi dirinya dengan pengalaman pribadi sebagai seorang wanita bukan perempuan. 
Tampaknya terjadi dikotomi ketertarikan antara laki-laki dan perempuan yakni laki-laki tertarik kepada faktualitas dan perempuan kepada fiksionalitas. Di dalam percakapan, laki-laki lebih memilih topik yang berhubungan dengan faktualitas yang diangkat dari surat kabar atau media televisi, misalnya tentang gejala reformasi yang sedang hangat. Hal ini berkaitan dengan peranan laki-laki yang mengarah kepada urusan publik. Sementara itu, perempuan lebih memilih topik percakapan yang berhubungan dengan masalah kekeluargaan misalnya tentang anak dan memasak. Hal ini berkaitan  dengan “peran” perempuan yang harus disandangnya yakni lebih ke arah domestik atau  mengurus keluarga sehingga topik yang keluar dalam percakapan kaum perempuan lebih berkisar kepada masalah domestik (privat) tersebut.
            Pada bidang diksi (pilihan kata), ada pula kata-kata yang dominan digunakan oleh perempuan karena berhubungan dengan “dunianya” seperti bentuk softex, feminax, masker, lulur, menyusui, dan haid.
            Fungsi dan peran perempuan di masyarakat yang hanya berkisar kepada urusan domestik (keluarga) berpengaruh terhadap bahasa yang digunakannya. Berbeda dengan perempuan, laki-laki  umumnya lebih berperan dalam urusan publik seperti urusan mencari nafkah, dan urusan “ke luar” rumah yang berpengaruh pula terhadap pemakaian bahasa yang dipakainya.
Perempuan mungkin menjawab sebuah pertanyaan dalam bentuk pertanyaan. Hal ini dilakukannya karena ia kurang yakin dengan dirinya sendiri dan terhadap pendapat-pendapatnya. Untuk alasan yang sama maka perempuan sering menambahkan bentuk tag question pada sebuah pernyataan seperti “They caught the robber last week, didn’t they?” (Lakoff via Wardhaugh, 1986).
            Berbeda dengan pendapat tersebut, terdapat anggapan bahwa perempuan di dalam percakapannya sehari-hari sering menggunakan kalimat-kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung. Sebaliknya, laki-laki di dalam ujarannya sering menggunakan kalimat-kalimat tidak langsung.
            Menurut Budiman (2000:12--13) laki-laki lebih banyak menggunakan kalimat yang mengandung verba aktif  seperti membawa dalam kalimat “Boleh membawa istri dan anak-anak, tidak?”  Verba aktif lain yang sering dituturkan laki-laki contohnya melamar, mengawini, menceraikan, dan mencium. Sementara itu, perempuan lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat yang mengandung verba pasif seperti dilamar, dikawini, diceraikan, dan dicium. Hal ini terjadi mungkin disebabkan peran perempuan yang lebih banyak ke wilayah domestik dan menunggu.            Dengan demikian, terdapat perbedaan bahasa antara laki-laki dan perempuan secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan satuan lingual yang digunakan oleh kedua gender tersebut dalam mengungkapkan suatu fakta, peristiwa, gagasan atau konsep yang ternyata dibatasi oleh bahasa. Satuan lingual tersebut dapat berupa kata dan kalimat (Ernalida, 2000:1).
            Data tentang ragam bahasa laki-laki dan perempuan di Palembang dan kaitannya dengan pandangan kedua jenis kelamin tersebut terhadap pemakaian bahasa belum ada. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih jelas ragam bahasa laki-laki dan perempuan ini serta untuk mengetahui pandangan laki-laki dan perempuan terhadap bahasa yang digunakannya.

METODE
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bercorak deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik rekaman dan wawancara. Rekaman digunakan untuk menjaring data ragam bahasa lisan laki-laki dan perempuan dalam percakapan nonformal di Palembang.
            Sementara itu, wawancara ditujukan kepada partisipan percakapan yakni laki-laki dan perempuan yang berbicara dalam percakapan yang direkam. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang pandangan laki-laki dan perempuan terhadap topik-topik yang dibicarakan di dalam percakapannya dan ujaran (bahasa) yang digunakannya. Wawancara dilakukan dengan metode cakap dengan teknik pancing (Sudaryanto dikutip oleh Ernalida, 2000:12). 
            Setelah data terkumpul maka dilakukan proses penganalisisan data. Data berupa ujaran-ujaran (ragam bahasa) laki-laki dan perempuan disalin dalam bentuk tulisan.           Selanjutnya data tersebut diklasifikasi berdasarkan ruang lingkup masalah yaitu topik-topik percakapan, aspek diksi atau pilihan kata, dan kalimat. Klasifikasi data juga dilakukan berdasarkan gender yakni laki-laki dan perempuan. Berdasarkan klasifikasi tersebut data kemudian dideskripsikan. Pada tahap pendeskripsian ini, data dianalisis berdasarkan konteks pemakaiannya.
            Sumber data di dalam penelitian ini diperoleh pada percakapan nonformal  yakni   percakapan laki-laki ketika mereka bermain gaple pada malam hari di Kompleks Griya Mitra. Rekaman dilakukan pada tanggal 3 Agustus 2002 pada pukul 19.43 – 20.28. Sementara itu, rekaman terhadap percakapan perempuan  dilakukan ketika mereka berkumpul di depan rumah salah seorang pembicara di Kompleks Griya Mitra Palembang. Rekaman dilakukan pada tanggal 22 April 2002 pada pukul 17.25 –17.52.
            Wawancara yang dilakukan untuk menjaring data persepsi laki-laki dan perempuan terhadap topik dan bahasa yang digunakannya dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 2002. Wawancara ditujukan kepada 3 orang pembicara laki-laki dan 3 orang pembicara perempuan yang semuanya terlibat di dalam percakapan nonformal tersebut.
            Usia partisipan di dalam percakapan tersebut berkisar antara 37 –46 tahun dengan pendidikan terendah SMU dan pendidikan tertinggi S2. Sementara itu, pekerjaan partisipan beragam dari ibu rumah tangga, guru SD, pegawai Dinas Pertanian, dan dosen (untuk kelompok perempuan) sedangkan pekerjaan partisipan laki-laki yaitu wiraswasta, pegawai Perumka, dan dosen.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui secara mudah topik-topik percakapan baik topik pembicaran laki-laki maupun perempuan berikut ini disajikan tabel yang berisikan topik-topik tersebut.
TABEL 1
Topik-topik Percakapan
Topik Percakapan Laki-laki
Topik Percakapan Perempuan
1.       Masa tugas RT
2.      Pencalonan walikota
3.      Pencalonan walikota dari warga Griya Mitra
4.      Syarat minimal walikota
5.      Foto salah satu warga di Transparan
6.      Pemborongan asuransi
7.      Pembangunan gedung
8.      Pembagian pekerjaan
      (ngetik daftar panitia, membagikan undangan acara 17-an Agustus
9.      Pembuatan pagar
10.    Bu RT hendak mundur
11.    Usaha baru (buka kantin)
12.    Kegiatan gelap di mobil merah
13.    Hasil kolam
14.     Fasilitas komplek
15.    Pembangunan ruko
16.    Pencarian proyek
17.    Pembagian keuntungan bila ada proyek
18.    Keluarga pejabat
19.    Rencana membuat hotel atau rumah makan
20.    Perbandingan dengan Negara Malaysia
21.    Anggota DPR yang bepergian
1.       Pembantu
2.       Pulang larut malam
3.       Si istri lebih tua daripada suami (menceritakan
        orang lain)
4.       Si istri hamil
5.       Baju murah tapi bagus
6.       Anak susah makan sehingga kesal
7.       Anak masih minta disuap
8.       Makan pakai tangan
9.       Anak belum mandiri
10.    Anak minta adik
11.    Harapan pembantu menyuapi anak
12.    Cerita menyuap anak makan
13.    Anak makan ayam saja
14.    Cerita memukul anak
15.     Cerita mengimbangi suami yang suka memukul anak
16.     Anak minta buat susu tapi tidak diminum
17.    Ibu jadi kotak sampah
18.    Anak perempuan yang dulu jadi kotak sampah
19.    Anak makan kulit fried chicken
20.    Harga ayam goreng di restoran mahal
21.    Beli ayam goreng di IP
22.    Beli nugget di Moriska
23.    Banyak pengawet di makanan
24.    Sebulan sekali beli fried chicken
25.    Beda kentang beli dengan buat sendiri
26.    Sambal kentang yang garing dan enak
27.    Ayam goreng  seperti ayam soponyono
28.    Ayam soponyono enak
29.    Baju bekas yang murah
30.    Tawaran baju bekas
31.    Pemisahan harga baju bekas
32.    Pergi ke pasar baju bekas
33.    Sendirian di blok sehingga duduk di teras rumah
34.    Tukang pulung yang menampung hasil curian
35.    Banyak anak maling jika sepi
36.    Anak-anak yang maling ditangkap polisi
37.    Hasil curian dijual ke pasar Cinde
38.    Anak pembantu tertangkap polisi
39.    Bermotor berdua suami kehujanan
40.    Bawa makanan pulang
41.    Makanan tidak ada yang  memakannya
            Percakapan antara laki-laki dengan sesamanya berlangsung selama 45 menit. Jumlah laki-laki yang berbicara sebanyak 6 orang. Keenam orang tersebut bertetangga dan saling mengenal. Percakapan dimulai ketika pembicara A menanyakan berapa lama lagi masa jabatan Bu RT di lingkungan tempat tinggal mereka. Percakapan bergulir ke topik-topik selanjutnya. Dari percakapan tersebut dapat ditandai sebanyak 21 topik percakapan. Percakapan ditutup dengan pernyataan akan pulang ke rumah oleh pembicara A karena sudah menang dalam permainan gaple yang diikutinya.
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa topik-topik yang dibicarakan laki-laki yaitu seputar masalah politik (pencalonan walikota, pencalonan walikota dari warga, syarat-syarat minimal menjadi walikota, anggota DPR yang bepergian), masalah sosial (masa tugas RT, pembagian pekerjaan untuk 17 Agustus, pembuatan pagar, Bu Rt hendak mundur, fasilitas komplek), masalah pembangunan (pemborongan asuransi, pembangunan gedung, pembangunan ruko, rencana membuat hotel atau rumah makan), masalah mencari proyek (pemborongan asuransi, pencarian proyek, pembagian keuntungan bila ada proyek). Di samping itu, ada pula percakapan seputar masalah orang lain atau membicarakan orang lain yaitu isu terhadap kegiatan gelap di mobil berwarna merah dan keluarga pejabat. 
            Dari sejumlah topik tersebut tampaknya percakapan laki-laki mengarah kepada urusan “luar” seperti masalah politik, sosial, mencari proyek, dan pembangunan.
            Percakapan perempuan dalam tabel di atas berlangsung selama 27 menit. Perempuan yang mengobrol dalam kesempatan tersebut sebanyak 4 orang. Apabila dilihat dari tabel di atas dapat diidentifikasi 41 topik percakapan. Dari keempat puluh satu topik tersebut dapat dilihat bahwa percakapan perempuan berkisar pada masalah domestik dan personal. Masalah utama yang dibicarakan tersebut adalah pembantu, makanan, perilaku anak-anak, dan baju. Masalah lain (masalah personal) yang dibicarakan oleh perempuan adalah menceritakan orang lain yakni tentang usia istri yang lebih tua dan si istri yang lebih tua tersebut sekarang sedang hamil.
            Masalah yang ke luar dari urusan domestik adalah masalah tukang pulung dan maling. Masalah itu pun dibicarakan dalam konteks di sekitarnya yakni kejadiannya di sekitar tempat tinggal pembicara.
Apabila dikaitkan antara lama percakapan dengan jumlah topik percakapan dapat diketahui bahwa selama 45 menit laki-laki membicarakan 21 topik sedangkan perempuan selama 27 menit membicarakan 41 topik. Dengan demikian, berarti perempuan dalam waktu yang relatif singkat berbicara lebih banyak hal (topik) namun topik-topik tersebut bersifat homogen. Dapat diketahui pula bahwa dalam waktu yang lebih singkat, perempuan mengucapkan kata-kata lebih banyak daripada laki-laki. Hal ini dibuktikan dari jumlah kata yang diujarkan oleh perempuan yaitu sebanayk 3478 kata. namun percakapan tersebut didominasi oleh seorang penutur (pembicara D) dengan jumlah kata yang dituturkannya sebanyak 2321 kata.
Dalam percakapan laki-laki tersebut, kaum laki-laki hanya menuturkan sejumlah 1152 kata dengan distribusi yang lebih merata di antara pembicaranya. Akan tetapi apabila dilihat dari keragaman topik percakapan, topik laki-laki lebih beragam daripada topik perempuan. Perempuan lebih banyak berbicara masalah yang berhubungan dengan rutinitas rumah tangganya walaupun 3 di antara pembicaranya adalah wanita yang bekerja di kantor.
      Berikut ini dikemukakan diksi yang berkaitan erat dengan topik-topik yang dibicarakan oleh pembicara.
TABEL 2
Diksi Laki-laki
Topik-topik Percakapan
Kalimat-kalimat
Ujaran
·         Masa tugas RT

·         Pencalonan walikota



·         Pencalonan walikota dari warga Griya Mitra
·         Syarat minimal walikota

·         Foto salah satu warga di Transparan
·         Pemborongan asuransi

·         pembangunan gedung

·         Pembagian pekerjaan
(ngetik daftar panitia, membagikan undangan acara 17-an Agustus)

·         Pembuatan pagar

·         Bu RT hendak mundur

·         Usaha baru (buka kantin)
·         Kegiatan gelap di mobil merah




·         Hasil kolam

·         Fasilitas komplek





·         Pembangunan ruko

·         Pencarian proyek

·         Pembagian keuntungan bila ada proyek


·         Keluarga pejabat

·         Rencana membuat hotel atau rumah makan

·         Perbandingan dengan Negara Malaysia





·         Anggota DPR yang bepergian
·         Berapo lamo lagi Bu RT kito tu.
·         Masih lamo, duo bulan lagi.
·         Siapo calon walikota sekarang? Ado denger idak?.
·         Siapo? Yang Bapeda. Si ini yang di pariwisata itu.

·         Pak Irwin, pasangan dengan aku, maju kito.


·         Minimal  tamat SMP kan?

·         Mbek formulir kito.
·         Minimal kan dari partai.
·         Duh, foto Jhon Kennedy di Transparan, duo hari yang lewat yo?
·         Borong apo sekarang Pak Jhon?
·         Dak katek, asuransi.
·         Aku malah belum ngeliat mano yang dibangun tu.
·         Nah ini nah daftar namonyo. Peganglah dulu. Kagek tinggal diketik, bagikelah. Belakang ini ado namo-namonya. Ini yang sudah dianu ke.

·         Jadilah, buat kolam di rumah, la buat pagar di dekat rumah Febri.
·         Aku pening, jadi bu RT ni. Mau mundur saja.
·         Tapi bagus jugolah buko kantin, malem malem pacak beli jugo.
·         Sikok lagi Pak, ringam  Pak, baru sari ni omong Pak itu, tuo-tuo ngumpul, apo gawenyo.
·         Kumpul-kumpul bae uwong di mobil merah tu, dalemnyo apo judi. Kalu di rumah ngeri apo nyamar bininyo.
·         Manolah, abis ikan Pak Darwin?

·         Iyo, usul. Terus terang bae aku ngomong di sano tu kan fasilitasnyo bae. Fasilitas komplek. Belum diserahkan dulu, ruko belum di bangun. Masjid sudah, fasilitas olahraga.
·         Ado ruko harus dibangun.
·         Mak mano nak jadi ruko kalu punyo.
·         Jon, carilah proyek, gek aku cari . . .
·         Galak apo?
·         Berapo persen?
·         Mudahlah itu. Men ado barangnyo pacak mersennyo. Kalu dak katek barangnyo, mak mano nak mersen kenyo?

·         Baknyo tu Baturajo. Kan bininyo tumasih keluarga walikota, pak Husni.

·         Kalu aku bikin hotel.
·         Wah, dak lemak hotel.
·         Atau bikin pagi sore bae.

·         Aku cak 3 hari di Malaysia. Di sano tu.
·         Memang  di biarke kota yang cak itu.
·         Kito ni salah. Kemarin pasar enam belas tu lah di bangun jalan pintas.
·         Dio tu jarang keluar, ke Malaysia, jarang.

·         Pergi DPR-nyo, sekarang ke Bali, kemano-mano.
·         IL1.A
·         IL2.B
·         IL6.A

·         IL8.A

·         IL16.B


·         IL17.A
·         IL20.B
·         IL22.A
·         IL25.B

·         IL27.A
·         IL28.D
·         IL33.A

·         IL41.D




·         IL49.D

·         IL53.A

·         IL55.A

·         IL64.C


·         IL65.B


·         IL.79.A

·         IL90.F





·         IL99.B
·         IL101.D
·         IL209.A
·         IL300.B
·         IL325.C
·         IL326.B



·         Il352.A

·         IL364.B
·         IL365.A
·         IL366.B

·         IL367.B
·         IL368.C
·         IL369.A

·         IL371.C


·         IL372.A

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa diksi yang digunakan laki-laki berkisar kepada urusan politik, sosial, pembangunan, dan pencarian proyek. Hal itu tecermin dari kalimat-kalimat yang digunakannya. Dari kalimat-kalimat tersebut dapat ditandai penggunaan diksi yang berhubungan dengan urusan politik seperti siapo calon walikota sekarang; Pak Irwin, pasangan dengan aku; maju kito; dan mbek formulir kito.
            Diksi yang digunakan untuk mengutarakan masalah sosial misalnya ini nah daftar namonyo; peganglah dulu; kagek tinggal diketik; dan bagikelah. Diksi yang membicarakan masalah sosial dapat pula dilihat dari  fasilitas komplek, belum diserahkan dulu; ruko belum di bangun; masjid sudah, dan fasilitas olahraga. Masalah sosial lainnya yang dibicarakan ditandai dengan munculnya diksi aku pening, jadi bu RT ini; mau mundur saja. Laki-laki di dalam kesempatan itu membicarakan masalah Bu RT yang hendak mundur dari jabatannya.
            Sementara itu, diksi yang digunakan untuk membicarakan masalah pembangunan contohnya  borong apo sekarang pak Jhon?; aku malah belum ngeliat mano yang dibangun tu; dan  kalu aku bikin hotel.
Diksi yang digunakan untuk membicarakan  pencarian  proyek misalnya Jon, carilah proyek, gek aku cari. Selanjutnya diksi yang berhubungan dengan imbalan terhadap adanya proyek diutarakan seperti mudahlah itu, men ado barangnyo pacak mersennyo; kalu dak katek barangnyo, mak mano nak  mersen kenyo?
Terdapat serangkaian tuturan yang membicarakan orang lain. Diksi yang digunakan membicarakan orang lain yaitu sikok lagi Pak, ringam  Pak, baru sari ni omong …, tuo-tuo ngumpul, apo gawenyo; kumpul-kumpul bae uwong di mobil merah tu, dalemnyo apo judi. Kalu di rumah ngeri apo nyamar bininyo. Begitu pula terdapat diksi yang membicarakan keluarga pejabat yaitu baknyo tu Baturajo; kan bininyo tu masih keluarga walikota, pak Husni.
            Berikut diberikan tabel diksi yang digunakan oleh perempuan dalam membicarakan topik-topik tertentu.
TABEL 3
Diksi Perempuan
Topik-topik
Percakapan
Kalimat-kalimat
Ujaran
·         Pembantu

·         Pulang larut malam
·         Si istri lebih tua daripada suami
·         Si istri hamil

·         Baju murah tapi bagus
·         Anak susah makan

·         Anak masih minta   disuap

·         Makan pakai tangan
·         Anak belum mandiri

·         Anak minta adik

·         Harapan kepada pembantu
·         Cerita menyuapi anak

·         Anak makan ayam saja
·         Cerita memukul anak

·         Cerita mengimbangi suami yang suka memukul anak
·         Anak minta buat susu tapi tidak diminum

·         Ibu jadi “kotak sampah”

·         Anak makan kulit fried chicken
·         Harga ayam goreng di restoran mahal
·         Beli nugget di Moriska
·         Banyak pengawet di makanan
·         Sebulan sekali beli fried chicken
·         Beda kentang beli dengan buat sendiri

·         Sambal kentang yang garing
·         Ayam soponyono enak

·         Tawaran baju bekas
·         Pemisahan harga baju bekas


·         Pergi ke pasar baju bekas

·         Sendirian di blok sehingga duduk di teras rumah
·         Tukang pulung orang yang menampung hasil curian
·         Banyak anak maling


·         Banyak barang hilang
·         Anak-anak yang paling ditangkap polisi

·         Hasil curian dijual ke pasar Cinde

·         Anak pembantu tertangkap polisi



·         Bermotor berdua suami kehujanan

·         bawa makanan pulang


·         makanan tidak ada yang memakannya
·         Ibu kalo aku perlu tenago ibu, tapi kato aku kalo nyuci-nyuci nantilah. Kalo perlu ibu, aku panggil ibu.
·         Sampek jam setengah  dua belas semalem.

·         Lakinyo tu maseh mudo. Tuolah Welly dari lakinyo tu. Lakinyo tu besak badan be,  mama Noval.
·         Idak, dio lagi hamil. Iyo, masuk 4 bulan dio. Itulah jarang keluar tu.
·         Yang dipake Mala malem-malem tu na yuk.  Bagus-bagus galo pilihan aku.
·         Ngapo, susah makannyo?
·         Samo dengen Aris kami. Makannyo lebeh-lebeh kito nak betempur.
·         Irfan bae maseh di suap. Endak tu dak makan.
·         Tigo beranak kami nyuap, dari semulut-semulut makan.
·         Aris kalu  makan make tangan. Sekarang aku kalu makan make tangan.
·         Itulah kalu pagi, aku dak biso ke mano-mano kalu dio sekolah. Makan disuapi, baju dibajui, mandi dimandii.
·         Itulah ujinyo, mama, punyo adek ma,ai dak ai, kau tu belum mandiri.
·         Aku tu lah yang orang kerjo di rumah, tolonglah oi suapi kalu budak tu dak galak makan. Suapi oi.
·         Bukannyo mudah ngenjuk  budak makan, kesel. Anak tu disuap yuk..anak ayuk tu makan tu belamburan, yuk, disuap yuk.
·         Dak besaos, makan ayam bae.
·         Ayam bae?
·         Dio tu cak itulah.. kagek blak..ujinyo tumpah, plang uji tangan (tertawa). Uji bapaknyo, lincah nian tangan tu, hehehe (tertawa).
·         Kalu aku tangan idak, tapi mulut.
·         Aku dak pacak ngimbangi bapaknyo tu. Kalu ado sandal, sandal. Kalu ado tali pinggang, tali pinggang dio.
·         Pa  minum susu. Dibikinnyo la oleh papanyo, ye..ye ditunggu la minumlah ujinyo. Minum la, minum la, maseh ye..ujungnyo burr..tumpah. na..kaget bapaknyo, ngamuk.
·         Besiso gek tigo perempat. Kalu penuh gek tinggal seperempat. Sayang. Kito la kagek kan kotak sampah. Jadi la..
·         Kalu Aris itu kulit ayamnyo bae yang kulit fried chicken utuh, kulitnyo.

·         Iyo, selawe ribu cuman duo beradek bae
·         Maseh mending kito makan nasi langsung. Makan nasi dengen ayam samo ini, hargo nasi dengen ayam
·         Aku galak beli naget tu la. Aku galak beli di Moriska, agak murah. Moriska kan jual jugo kan.
·         Tapi pengawetnyo itu na, alangkah nemennyo uji aku


·         Aku kadang-kadang bae kalu men sebulan sekali la. Anggap bae kan, sekalian belanjo beli cak itu.

·         Itu kan kentang tu kalu kito goreng dewek jadinyo ngelempem  itu.
·         Iyo, kalu goreng dewek, dinginnyo ngelempem itu. Kalu beli keras
·         Dio bikin sambal kentang yang panjang-panjang itu.garing nian kentangnyo.
·         Cubolah jadinyo ayam soponyono itu. Soponyono tu jingoklah. Lemak nian ayamnyo. Gurih-gurih manis itu na
·         Iyo, maksud Mala tu tigo sepuluh. Tigo ikok tu nak ditawarnyo sepuluh ribu.
·         Sudah tu kalu di Ibu Yeni tu digolongke nyo.oi, bagus-bagus nian.Dio la dikumpulke nyo. ni kelompok ni kelompok. Kadang-kadang di kelompok itu bagus-bagus mama Mira ye.
·         Di bawah proyek. Ini kemarin tu Eli nak ngajak. Sabtu kemaren. Kalu hari libur banyak wong, banyak ke BJ
·         Di blok itu aku dewek. Itulah aku tu kadang-kadang men lagi sepi-sepi, aku duduk di teras. Aku Yuk kalu sepi nian, aku duduk di teras. Biar mato wong tu njingok, jugo jangan daerah ni sepi kan.
·         Apalagi burukan. Buruk-buruk itulah. Itulah yang nampung budak-budak maling ni.


·         Jadi nyuruh budak-budak tu. Paling dijual kenyo murah nampung buruk-buruk itu.
·         Jadi dio nyuruh budak-budak maling, dio nampungnyo. Budak-budak  tu. Maling baju
·         Sepatu, sandal, cak kemaren kan kito ilang galo yo. Panik tiap rumah.
·         Kato budak, kan waktu ditanya polisi, dijual kemano? Burukan pak. Di tanyo berapo sikok? Limo ratus perak.

·         Aku dulu tu tetanggo, kawan sekolah. Kemalingan kan,langsung  lari ke Cinde. Ketemu di sano dan yang maling, ditemuinyo di Cinde. Wong maling itu ken nak ngenjualnyo. Ketangkep. Dio kan polisi.
·         Anak Eli yang begawe tu. Iyo, dio tulah yang deket bu Sinta nangis-nangis anak aku jangan ditangkep. Yo biarlah unjuk pelajaran yo. Emang abis tu dikeluarke lagi. Tapi kalu dio ngulang lagi ditangkep lagi. Istilahnyo tu ken dio masih kecik.
·         Lemak ai bemotor tu. Lebih romantis. Bermotor tu lebih romantis. Bemotor dak pacak mak ini

·         Kalu bawak ke rumah, makan rame-rame yo. Kalu anak beranak tu lemak yuk ye, mendak tu bawa balek, makan rame-rame mungkin di rumah tu mantep mama Ira.
·         Bawa nasi dak di makan. Aku kalu tau kamu dak makan, baeknya aku makan

·         IIP1.B

·         IIP6.D

·         IIP15.D

·         IIP20.D IIP21.D
·         IIP29.D

·         IIP33.D
·         IIP36.D

·         IIP40.B
·         IIP41.D

·         IIP47.D

·         IIP48.D


·         IIP51.D

·         IIP54.B

·         IIP56.B


·         IIP60.D
·         IIP61.B
·         IIP65.A


·         IIP66.C
·         IIP68.C


·         IIP73.D



·         IIP78.D

·         IIP82.D


·         IIP96.C
·         IIP101.D

·         IIP104.D

·         IIP112.C


·         IIP113.C


·         IIP121.D

·         IIP122.B

·         IIP123.B

·         IIP178.D


·         IIP 193.D

·         IIP197.D



·         IIP235.D


·         IIP255.D



·         IIP255.D



·         IIP255.D

·         IIP259.D IIP261.D
·         IIP262.D

·         IIP262.D



·         IIP277.D



·         IIP290.D



·         IIP298.B IIP299.C IIP300.D
·         IIP314.D



·         IIP314.D


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar