Rabu, 01 Februari 2012

Penerapan Strategi Formeaning Response dalam Pembelajaran Puisi: Sebuah Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Berbahasa dan Bersastra[1]


Penerapan Strategi Formeaning Response dalam Pembelajaran Puisi:
Sebuah Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Berbahasa dan Bersastra[1]
                                                    
Nurhayati[2]


Abstrak: Pembelajaran sastra pada hakikatnya bukan hanya dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra melainkan pula dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Hanya saja dalam kenyataannya pembelajaran sastra belum menyentuh  tujuan tersebut secara proporsional apalagi dapat mengantarkan siswa ke pencapaian tujuan dalam sekali langkah pembelajaran. Kata pepatah yang menyatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui akan tercapai apabila guru menggunakan strategi yang diberi nama formeaning response. Dengan strategi formeaning response, siswa diminta untuk menggauli puisi yang dibacanya lewat setidak-tidaknya dua arah utama yaitu dengan mendiskusikan bahasa yang digunakan penyair dalam larik-larik puisi dan bagaimana tanggapan personal siswa terhadap puisi yang dibacanya sesuai dengan horison harapannya.  

Kata-kata kunci: Pembelajaran puisi, stilistik, respon pembaca, dan formeaning response

Pendahuluan

       Telah lama diupayakan agar pembelajaran sastra mendapat porsi yang seimbang dalam pembelajaran bahasa. Pembelajaran sastra dianggap tidak mendapat “tempat” dalam pembelajaran bahasa. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya ialah minimnya pengetahuan guru tentang strategi pembelajaran sastra. Sementara itu, tidak diragukan lagi bahwa  pembelajaran sastra dapat memberi kontribusi dalam peningkatan kompetensi berbahasa siswa. Dengan adanya asumsi demikian, guru seyogyanya perlu menyediakan input bahasa dan kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi sarana dalam proses pembelajaran sastra yang dapat berimbas kepada peningkatan kemampuan berbahasa siswa. Salah satunya ialah guru dapat menggunakan aktivitas pembelajaran puisi sebagai dasar kegiatan pembelajaran bahasa sekaligus sebagai upaya dalam meningkatkan apresiasi siswa dalam bersastra.  
       Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran puisi yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa antara lain dilakukan oleh Nurhayati (1998),  Maley dan Duff (1989), dan Hanauer (2001). Begitu pun Alwasilah (dikutip Rudy, 2004:2) menyatakan bahwa sastra mampu mengembangkan kompetensi berbahasa siswa karena karya sastra kaya akan kosakata dan ragam kalimat.
       Tulisan ini memaparkan alternatif strategi dalam pembelajaran sastra khususnya puisi yaitu strategi stilistik yang dikombinasikan dengan strategi respon pembaca. Alasan pemilihan strategi ini ialah sebagai berikut. Stilistik  merupakan strategi yang menganalisis dan memahami karya satra dari bentuk-bentuk bahasa (language forms) sedangkan respon pembaca merupakan strategi yang berkaitan dengan pemahaman pembaca secara personal terhadap teks sastra.  Kedua strategi tersebut nantinya dalam pembelajaran sastra saling berkaitan dan saling mengisi dalam rangka memahami karya sastra yang dibaca (puisi) sekaligus dapat meningkatkan kemampuan berbahasa. Oleh Kellem (2009) kedua strategi tersebut dinamakan strategi  formeaning response. Strategi formeaning response ini menurut Kellem merupakan strategi yang bekerja dengan cara mempelajari unsur-unsur bahasa puisi dan merespon puisi secara personal.


Pembelajaran Puisi dengan Strategi Stilistik      
            Short dan Christoper Candlin (dikutip Nurhayati, 2008:8) menyatakan “Stylistics is a linguistics approach to the study of literary texts.” (Stilistika adalah pendekatan linguistik yang digunakan dalam studi teks-teks sastra).
Senada dengan pengertian tersebut Turner (1975:7) menyatakan  bahwa stilistika merupakan bagian linguistik yang menitikberatkan kajiannya kepada variasi penggunaan bahasa dan kadangkala memberikan perhatian kepada penggunaan bahasa yang kompleks dalam karya sastra.
       Cummings dan Simmons (1986:vii) menyatakan bahwa kajian stilistik melihat bagaimana unsur-unsur bahasa digunakan untuk melahirkan pesan dalam karya sastra, atau dengan kata lain stilistika berhubungan dengan pola-pola bahasa dan bagaimana bahasa digunakan dalam teks sastra yang dikaji. Dengan menganalisis bahasa yang dipolakan secara khas, seseorang dapat menunjukkan kekompleksan dan kedalaman bahasa teks sastra dan juga menjawab bagaimana bahasa tersebut memiliki kekuatan yang menakjubkan termasuk kekuatan kreativitas karya sastra. Lebih jauh,  Cumming dan Simmons menyatakan bahwa dengan menganalisis teks sastra sebagai artefak verbal, seseorang dapat menonjolkan status artefak verbal tersebut sebagai karya sastra.
       Sejalan dengan itu, Short (dikutip Kellem, 2009:12) menyatakan stilistik ialah aplikasi langsung dari bukti-bukti linguistik untuk menganalisis dan menginterpretasi karya sastra dan alat analisis yang menggunakan penjelasan aspek-aspek formal puisi untuk mendiskusikan makna puisi itu sendiri. Contohnya mengutarakan repetisi leksikal dalam pusi yang dapat digunakan untuk memperkuat kesan dari sebuah kata.  
       Leech dan Short (1981), Widdowson (1982), Carter dan Long (1991) yang dikutip Nurhayati (2008) telah memberikan petunjuk bagi strategi stilistik terhadap pembelajaran sastra di mana siswa diminta untuk menggunakan pengetahuan struktur bahasanya dalam menganalisis karya sastra serta menghubungkan observasi-observasi mereka untuk mencapai efek-efek pembelajaran sastra. Interpretasi terhadap karya sastra yang dibaca siswa berdasarkan bukti yang spesifik dari hasil pergaulan dengan teks yang dibaca siswa.
       Rosenkjar (dikutip Kellem, 2009:13) memberikan contoh kegiatan yang berkaitan dengan puisi sebagai berikut.
-   Menggarisbawahi kalimat-kalimat lengkap dengan menggunakan spidol warna-warni;
-   Mengelompokkan kata-kata yang terdapat dalam puisi berdasarkan kelas kata;
-   Menandai kata-kata ganti yang terdapat dalam puisi;
-   Menggarisbawahi kata-kata kerja yang terdapat dalam puisi.
       Kegiatan-kegiatan yang disarankan oleh Rosenkjar tersebut pernah dilakukan oleh Nurhayati dalam penelitiannya pada tahun 1998 dengan meminta siswa menandai kalimat aktif dan pasif, menentukan kategori kata, dan menambahkan kata-kata pada larik-larik puisi yang dibaca sehingga mudah dibaca sekaligus dimaknai. Di samping itu, dilakukan pula kegiatan memaknai metafora dan mengulas citraan yang terdapat dalam pusi yang dibaca. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan menentukan tema dan amanat yang terdapat di dalam puisi.  

Pembelajaran Puisi dengan Strategi Respon Pembaca
Kata “respon” memposisikan pembaca sebagai penerima teks dan terbuka kemungkinan yang subjektif, objektif, dan emosional. Dengan demikian, respon terhadap bacaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan bacaan tersebut dengan pengalaman pribadi. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada siswa saat mereka merespon sebuah bacaan adalah pengembangan emosional dan intelektual secara mendasar (Probst, 1988:45).
Strategi respon pembaca mengedepankan kenyataan bahwa seorang pembaca memiliki peran besar dalam menetapkan makna sebuah bacaan. Dengan kata lain, apa yang terkandung dalam sebuah bacaan mungkin saja tidak terdapat di dalam bacaan itu sendiri, melainkan di dalam konstruksi (construct) pembacanya (Putubuku, 2009).
Dari berbagai literatur yang berkaitan dengan  respon pembaca dapat diketahui bahwa sebuah teks bukanlah satu-satunya sumber makna (seperti yang dianut oleh aliran struktural). Seorang pembaca menggunakan akal-budi dan pengalamannya ketika membaca sebuah teks. Oleh Jausz, proses membaca karya sastra berkaitan erat dengan horison harapan (horizon of expectation) dari masing-masing pembaca. Horison harapan ini mempengaruhi dan mengarahkan kesan, tanggapan, dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra yang dibacanya (Atmazaki, 2007:119).
Pembaca, sebagai pengungkap makna karya sastra, adalah faktor yang variabel. Variabel-variabel itu antara lain ialah usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dan sosial budaya pembaca itu sendiri. Oleh karena itu, satu karya sastra bisa jadi memperoleh makna yang bermacam-macam.
Terbukanya berbagai penafsiran terhadap karya sastra dikemukakan pula Agustina (2003) yang menyatakan bahwa adanya hubungan erat antara pembaca dan teks sastra yang memungkinkan munculnya berbagai makna. Pradopo (dikutip Sanidu, 2007:21) menyatakan bahwa berbagai penafsiran tersebut wajar terjadi karena karya sastra memiliki wilayah ketidakpastian. Wilayah ketidakpastian itu merupakan bagian-bagian kosong yang mengharuskan pembaca untuk mengisinya.
Beberapa peneliti juga menekankan pada kemungkinan seorang pembaca “menemukan” maknanya sendiri, yang barangkali berbeda dari yang ditemukan orang lain, atau dari yang tertera di atas kertas. Pada intinya, teori reader-response atau teori reception (karena berkonsentrasi pada pembaca sebagai “penerima” teks) mengangap bahwa teks tertulis harus dilihat secara dinamis, dan belum “jadi”. Setelah ada pembacanya, barulah teks itu membentuk makna. (Putubuku, 2009).
Berkaitan dengan tanggapan pembaca, menurut Junus (1985:1) tanggapan yang diberikan pembaca dapat bersifat pasif yakni bagaimana seorang pembaca memahami karya sastra atau melihat estetika yang terdapat di dalam karya sastra. Tanggapan tersebut dapat bersifat aktif yakni bagaimana pembaca merealisasikannya. Kedua konsep ini berkaitan dengan strategi yang dikemukakan di dalam makalah. 
Sejalan dengan itu, Rosenblatt (dikutip Probst, 1988:7—8) menyatakan “All the student’s knowledge about literary history, about authors and periods and literary types, will be so much useless  baggage if he has not been led primarily  to seek in literature a vital personal experience. Rosenblatt menyarankan adanya pengalaman personal siswa ketika bergaul dengan karya sastra dan memberikan kesempatan kepada siswa menggunakan semua pengetahuan teoretisnya tentang sastra dalam pengalaman personal tersebut. Dengan demikian, akan terbuka berbagai penafsiran terhadap karya sastra tergantung kepada pengetahuan yang dimiliki siswa.
Lebih jauh Rosenblatt (Kellem, 2009:14) menyatakan bahwa penafsiran diperoleh siswa dihasilkan lewat sebuah transaksi antara pembaca (siswa). Ia menempatkan transaksi membaca tersebut ke dalam sebuah skala dari skala yang disebut efferent stance (mendapatkan informasi) kepada aesthetic stance yakni membaca bagi mendapatkan pengalaman atau mendapatkan hiburan.
Sejumlah penelitian telah membuktikan adanya keunggulan strategi respon pembaca dalam pemerolehan bahasa kedua misalnya oleh Ali (dikutip Kellem, 2009:13) yang melakukan penelitian terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua bagi mahasiswa teknik di universitas Malaysia. Ali menemukan bahwa manakala mahasiswa terlibat dalam pengalaman membaca cerita pendek mahasiswa dapat meningkatkan pengalaman membacanya. Penelitian yang telah dilakukan oleh Rudy (2004) juga menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berbahasa khususnya menulis pada siswa SD dengan menggunakan model respons pembaca.  

Penerapan Strategi Formeaning Response dalam Pembelajaran Puisi
Strategi formeaning response merupakan kombinasi dari dua strategi yakni strategi stilistik dan respon pembaca. Kata formeaning berasal dari kata form dan meaning yang mengacu kepada strategi stilistik yakni strategi yang berpusat kepada bahasa yang terdapat dalam karya sastra (puisi). Form (bentuk) dan meaning (makna) tidak dapat dipisahkan dalam analisis stilistik terhadap sebuah puisi karena untuk mendeskripsikan dan memahami bentuk bahasa seperti butir-butir leksikal dan/atau struktur gramatikal yang ada dalam puisi pembaca harus memperhatikan bentuk dalam konteksnya yang bermakna. Diskusi makna puisi harus berasal dari diskusi terhadap bentuk-bentuk linguistik puisi itu sendiri. Oleh sebab itu, bentuk dan makna merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam menganalisis dan memahami puisi.
Kata response mengacu kepada strategi respon pembaca yang mengasumsikan bahwa ketika siswa secara personal bergaul dengan karya sastra mereka menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing. Ketika mereka menghubungkan dengan pengalamannya itu mereka sering kurang fokus terhadap bentuk-bentuk linguistik yang ada. Hal itu disebabkan mereka mengkonstruksi keseluruhan makna melalui proses transaksional dengan pengetahuan, pengalaman, dan ide-ide yang mereka miliki secara personal (Kellem, 2009:14--15).
Lebih jauh Kellem (2009:15) menyatakan bahwa kombinasi antara kedua strategi itu menjadikan pembelajaran puisi lebih menyenangkan. Strategi ini merupakan jembatan bagi strategi yang menekankan bentuk-bentuk linguistik (stilistik) dan estetik dalam kegiatan membaca dan memahami pusi. Dengan demikian, pembelajaran puisi dapat menyenangkan karena siswa dapat memahami puisi berdasarkan penafsiran personalnya dan berupaya memahami puisi melalui bukti-bukti bahasa yang dapat digali dari puisi yang dibacanya.
Penelitian ini menggunakan strategi formeaning response dengan alasan pemilihan sebagai berikut. Stilistik  merupakan strategi yang menganalisis dan memahami karya sastra dari bentuk-bentuk bahasa (language forms) sedangkan respon pembaca merupakan strategi yang berkaitan dengan pemahaman pembaca secara personal terhadap teks sastra.  Kedua strategi tersebut nantinya dalam pembelajaran sastra saling berkaitan dan mengisi dalam rangka memahami karya sastra yang dibaca (puisi) sekaligus dapat meningkatkan kemampuan berbahasa.

Prosedur Pelaksanaan Strategi Formeaning Response
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada pelaksanaan strategi formeaning response ialah sebagai berikut. (1) Kegiatan warm-up yaitu kegiatan brainstorming dengan mengekspresikan opini siswa terhadap tema puisi yang akan dibaca. Guru dapat meminta siswa menceritakan pengalaman pribadinya yang berkaitan dengan tema puisi. Siswa diminta mengaktifkan background knowledge yang akan membantunya dalam menganalisis dan memahami puisi yang dibacanya. (2) Kegiatan yang memfokuskan bentuk dan makna puisi yang berkaitan dengan unsur-unsur puisi. Kegiatan ini berupa latihan memberikan beberapa alternatif kata-kata yang sesuai atau tepat terhadap kata-kata “khas” atau kata-kata “unik” yang digunakan penyair. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat kata-kata “khas” dalam konteks keseluruhan puisi. Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan bagaimana butir-butir kosa kata bekerja dalam sebuah puisi.(3) Kegiatan menyimak kata-kata yang dirumpangkan. Guru melisankan puisi yang telah dirumpangkan kata-kata tertentu. Siswa diminta untuk mengisi kata-kata rumpang tersebut. Kegiatan ini memungkinkan siswa fokus kepada kata-kata “khas” yang digunakan penyair. (4) Kegiatan mendaftar kata-kata kerja atau kata sambung dan/atau objek-objek kongkret dalam puisi. Siswa kemudian diminta untuk mengelompokkan kata-kata itu berdasarkan kategori katanya. (5) Kegiatan berdiskusi. Siswa berdiskusi di dalam kelompok kecil (2 atau 3 orang). Siswa mendiskusikan bagaimana perasaannya jika mereka memiliki karakter seperti yang digambarkan dalam puisi atau dapat berupa membayangkan apa yang akan dikerjakan oleh tokoh dalam puisi. (6) Kegiatan menggambar. Siswa membuat gambar yang berkaitan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. (7) Kegiatan role play. Siswa melakukan kegiatan bermain peran dengan berlaku seperti layaknya tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. Kegiatan ini menghendaki siswa berpikir dan berperan dalam kaitannya dengan tema puisi. (8 ) Kegiatan menulis surat. Kegiatan selanjutnya ialah kegiatan merespon puisi dengn cara mengirim surat kepada tokoh yang ada dalam puisi, memberi saran kepada tokoh, atau membuat catatan tentang tokoh. Dengan  kegiatan menulis ini, siswa menempatkan diri dalam situasi puisi.
Penutup
            Pada dasarnya penggunaan strategi formeaning response ini bertujuan memberikan dua kecakapan. Kecakapan pertama yaitu memberikan kemampuan kepada siswa untuk mengobservasi bahasa karya sastra yang dibacanya. Kegiatan ini dapat menuntun siswa kepada pemahaman yang lebih baik terhadap kiat sastrawan dalam memanfaatkan bahasa sebagai sarana pengungkap makna. Kecakapan  kedua yaitu  kemampuan merespon teks yang dibaca berdasarkan pengalaman sebelumnya, persepsi, imajinasi, dan bahkan juga harapan-harapannya. Dengan demikian, guru dapat menggunakan strategi ini dengan langkah-langkahnya di dalam kelas. Apabila strategi ini dilakukan tidaklah menjadi keniscayaan terdapat  peningkatan kemampuan berbahasa dan kemampuan mengapresiasi karya sastra pada diri siswa.
Daftar Pustaka
Atmazaki. 2007. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: UNP Press
Cummings, M. dan R. Simmons. 1986. The Language of Literature. England: Pergamon              Press Ltd. 
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Kellem, Harlan. 2009.  The  Formeaning  Response Approach: Poetry in the EFL Classroom.
English Teaching Forum 47 (4): 12—17.
Nurhayati. 2008. Stilistika: Teori dan Aplikasinya. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Probst, Robert E.. 1988. Response and Analysis. Teaching Literature in Junior and Senior           High School. Portsmouth, NH: Heinemann Educational Books, Inc.
Putubuku. 2009. “Membaca” sang Pembaca. Tersedia di    iperpin.wordpress.com/2009/03/20/membaca-sang-pembaca/ diakses tanggal 5   Februari 2010.  
Ratna Trieka Agustina. Respon Pembaca sebagai Strategi Membaca Cerita Sastra di      Sekolah Dasar. Wahana Sekolah Dasar (Berkala), Vol. 11, No. 1 (2003). Tersedia di             journal.un.ac.id./index.php/wahana-sekolah-dasar/…/2013 diakses tanggal 5 Februari      2010.
Ross, C.S. (2005), “Reader response theory”, dalam Theories of Information Behavior,     Fisher, K.E, Erdelez, S. dan McKechnie, L. (ed.),  Medford : Information Today,       hal. 303 – 307.
Rudy, Rita Inderawati. 2005. Model Respons Nonverbal dan Verbal dalam Pembelajaran Sastra untuk Mengembangkan Keterampilan Menulis Siswa SD Negeri ASMI I, III, V Kota Bandung Tahun Ajaran 2003/2004. Disertasi. Universitas Pendidikan Indonesia.
Sanidu. 2007. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat.      Yogyakarta:Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Turner, G. W. 1975. Stylistics. Great Britain: Hazell Watson & Viney Ltd.















[1] Disajikan pada Seminar Internasional dalam Rangka PIBSI di Universitas Widya Dharma Klaten
  Jawa Tengah pada Tanggal 9--10 November 2010.
[2] Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan
  Seni FKIP Unsri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar